Olimpian Ini Sebut Pelti Harus Banyak Gelar Pertandingan Tenis Internasional di Indonesia

November 30, 2022

JAKARTA, govnews-idn.com – Pergantian personil dalam satu struktur bersifat normal untuk keberlangsungan roda organisasi. Hal tersebut diungkapkan mantan atlet tenis Indonesia Donald Wailan Walalangi, menyoroti pasca bergantinya Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Lawn Tenis Indonesia (PP Pelti) dari Rildo Ananda Anwar kepada Prof. Edward Omar Sharif Hiariej melalui musyawarah nasional (Munas) pekan lalu.

“Ada yang suka dan ada juga yang tidak suka pergantian ini, namun itu normal saja dalam satu dinamika organisasi,” ucap Wailan Walalangi, Selasa (29/11/2022/2022).

Olimpian tenis yang mewakili Indonesia di Olimpiade Seoul pada tahun 1988 itu juga mengatakan bahwa diagendakan pada hari Rabu (30/11/2022), tim formatur akan mengadakan pertemuan untuk menyusun kepengurusan PP Pelti periode 2022-2026.

Terkait prestasi yang didapat tenis Indonesia di era Rildo Ananda Anwar, Wailan menyebut bagus, namun bagi dirinya jangan berpuas diri, tapi harus terus ditingkatkan dalam kepengurusan di bawah komando ketua baru yang akrab disapa Prof. Eddy itu.

Menurut Wailan, Prof. Eddy ke depannya akan mengemban tugas sebagai Ketua PP Pelti untuk memperkuat apa yang telah dibuat oleh Menpora Zainudin Amali yakni Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), sehingga ke depannya bermain tenis by design, supaya atlet-atlet tenis Indonesia yang muda-muda di berbagai daerah bisa maju secara berjenjang sampai ke tingkat Olimpiade.

Oleh karena itu, dirinya mengusulkan jika mengurus tenis ke depannya bukan hanya terkait pembinaannya saja, namun perlu di desain infrastrukturnya yakni pertandingan atau kompetisi.

“Itu yang harus dipersiapkan oleh PP Pelti. Itulah jenjang yang akan diikuti oleh semua pemain dari tingkat junior nasional, junior internasional hingga senior, lahannya infrastruktur itu adalah kompetisi,” tuturnya.

Namun sebelum melangkah ke arah itu, Wailan yang merupakan bagian dari tim Piala Davis Indonesia tahun 1982, menggasak Jepang 5-0 mengatakan jika mindset semuanya harus diubah terlebih dahulu. “Seluruh pemain harus melihat ke internasional, bukan nasional lagi, karena pemain yang bagus-bagus akan bermain di multi event yang lebih bergengsi. Seperti Asian Games ataupun Olimpiade, bahkan Davis Cup dan lainnya,” ucapnya.

Untuk itu, Wailan menyarankan sebaiknya pertandingan internasional ke depannya banyak dimainkan di Indonesia, sehingga petenis Indonesia giat mengikuti kalender internasional untuk mengukur kemajuan dan kemampuan mereka.

“Lebih Penting Yang Internasional”

“Pertandingan level nasional penting, tapi lebih penting yang internasional, karena pemain-pemain tersebut akan mewakili Indonesia. Bagaimana jika mereka tidak memiliki pengalaman bertanding, sehingga pada kepengurusan PP Pelti yang baru ini harus sebanyak mungkin menggelar pertandingan internasional di dalam negeri,” harapnya.

Sebagai contoh Wailan menyebutkan kalau saja diambil delapan pemain putra dan putri tampil di turnamen internasional di Indonesia, artinya PP PELTI  telah mencetak setidaknya 16 pemain yang telah siap bermain di luar negeri.

“Sebelum mereka touring ke luar negeri, para pemain itu sudah memiliki bekal untuk tempur. Sehingga modal utamanya dengan mengikuti turnamen internasional di dalam negeri, supaya mereka punya modal untuk berlaga di luar negeri,” ungkapnya.

“Setelah kita punya 16 pemain yang siap melanglang buana ke luar negeri, kita siapkan 16 pemain lagi sebagai pelapis melalui format yang sama. Artinya kita sudah punya 32 pemain yang andal. Kalau lapisannya sudah ada, kita akan enak aja nantinya mengirim pemain untuk berlaga di kompetisi internasional,” tambahnya.

Sejauh ini, pada Januari 2023 para petenis Indonesia baru didaftarkan untuk dua pertandingan internasional saja. Melihat hal tersebut, Wailan pun mengusulkan sedikitnya delapan turnamen internasional harus diikuti petenis putra maupun putri di dalam negeri, di mana para pemain itu bisa bermain di sektor ganda maupun tunggal. 

“Berarti 32 pemain akan berlaga, baik itu 16 putra dan 16 putri. Kalau itu berputar akan menjadi satu industri. Kemudian kita siapkan dua Challenger, sehingga totalnya bisa ada 34 turnamen internasional di dalam negeri. Ditambah lagi mereka bermain Davis Cup dan SEA Games, persiapan Asian Games, sehingga pemain kita tidak berhenti,” tuturnya.

“Menurut saya, pertenisan Indonesia kedepannya bisa maju, asal diurus baik-baik dan yang diurus adalah pemainnya,” pungkas Wailan.

NTO

Donald Wailan Walalangi menyarankan sebaiknya pertandingan internasional ke depannya banyak dimainkan di Indonesia. Foto: NTO

RELATED POSTS