Akademisi Universitas Paramadina Evaluasi Siaran Televisi Nasional

October 25, 2022
JAKARTA, govnews-idn.com – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi DKI Jakarta menggandeng Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina pada Evaluasi Dengar Pendapat.
 
Acara yang berlangsung belum lama ini, untuk mendapatkan masukan dari para akademisi terkait rekomendasi dalam upaya perpanjangan dan permohonan izin penyelenggaraan televisi dan radio di Jakarta. 
 
Agenda ini dihadiri beberapa dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina serta perwakilan KPID Provinsi DKI Jakarta. Bambang Pamungkas, M.Ikom, selaku anggota komisioner.
 
Kegiatan ini beragendakan evaluasi siaran televisi nasional, di antaranya stasiun RCTI, Indosiar, SCTV. 
 
Dr. Rini Sudarmanti dan Tri Wahyuti, M.Si pada presentasinya menjelaskan temuannya pada tayangan berita Indosiar, di mana masih ada penggambaran kejahatan seksual yang dapat membuat penonton membayangkan atau bahkan seperti menyaksikan proses terjadinya peristiwa kejahatan seksual itu. 
 
Tri Wahyuti, M.Si: Masih ada penggambaran kejahatan seksual
 
Meskipun sebagian besar isi pemberitaan telah menerapkan prinsip jurnalistik, namun Indosiar masih menerapkan asas praduga tak bersalah yang terkesan setengah-setengah karena wajah para pelaku tidak di blur atau diminta membelakangi kamera. Adanya penyebutan nama dan penampakan foto orang atau pelaku pelanggaran hukum yang masih berstatus “terduga”.
 
Sedangkan pada program non berita, Rini dan Tri menyoroti adanya tayangan berdurasi sangat panjang hingga empat jam, seperti D’Academy yang selesai pada pukul 23.07 WIB. Jika melihat rentang usia peserta berada pada usia 14-25 tahun, artinya program ini tidak menutup kemungkinan melibatkan usia di bawah umur yang ikut hingga larut malam (melewati pukul 21.00). 
 
Selain itu, Program Drama Indosiar juga masih memperlihatkan tindakan pelecehan pada situasi ekonomi dan perbedaan usia yang tampak biasa tetapi menjadi bumbu konflik cerita yang disajikan dalam tayangan. 
 
Rini dan Tri juga mengungkapkan masih adanya penggambaran perempuan yang berpakaian tertutup tetapi mengimajinasikan lekuk tubuh seperti paha, dada dan bokong yang merupakan bentuk eksploitasi tubuh perempuan. 
 
Meskipun penggambaran kekerasan tidak digambarkan detail dalam drama, namun lebih banyak tergantikan dalam bentuk kekerasan verbal, intonasi suara dan mimik wajah. 
 
Faris Budiman Annas menilai masih ada program tv tidak baik dikonsumsi
 
Perilaku kekerasan yang demikian ini perlu juga diwaspadai kemunculannya karena juga berpotensi menjadi suatu pembenaran sebagai sesuatu yang biasa terjadi di kalangan masyarakat pada umumnya.
 
Sedangkan pada evaluasi siaran televisi stasiun RCTI yang disampaikan oleh Faris Budiman Annas, M.Si dan Mila Falma Masful, M.Si ditemukan program infotaiment RCTI cenderung dinilai tidak baik untuk dikonsumsi khalayak karena acara ini melanggar etika. Terutama pada kasus-kasus rumah tangga selebriti yang menyangkut isu kekerasan.
 
Diharapkan, program info seputar selebriti tidak hanya mengangkat kisruh rumah tangga tapi juga ada muatan edukasi, misalnya menghadirkan pakar yang berpendapat tentang menjaga keharmonisan rumah tangga dan edukasi kepada penonton terkait kekerasan dalam rumah tangga. 
 
Namun Faris dan Mila menilai, tontonan seperti Sinetron Si Doel Anak Sekolahan merupakan program yang sarat akan budaya yang dapat tetap dilestarikan dengan menghadirkan sinetron-sinetron dengan tema dan muatan budaya serupa.
 
UP – ENDOT BRILLIANTONO
 
Dr. Rini Sudarmanti menyoroti adanya tayangan berdurasi sangat panjang hingga empat jam. Foto: UP

RELATED POSTS