Merawat Warisan, Menggergaji Gelombang (70 Tahun Kalla Group Berkarya Dari Timur Untuk Indonesia)

October 3, 2022

Oleh: Mohammad Rusman Madjulekka

JAKARTA, govnews-idn.com – SUARANYA pelan. Sesekali mengumbar senyum.Dia mengenakan baju kaos hitam dipadukan celana panjang krem. Dengan penampilan casual kelihatan agak muda. Setidaknya bagi pria seumurnya. 
 
Ketika saya mengalihkan pandangan ke kaki, sepatunya bukan yang wah atau bermerek dengan harga mahal. Sama sekali tidak terlihat sebagai bos besar perusahaan terkemuka di Indonesia. 
 
Itulah kesan saya, Sabtu 21 Mei 2022. Saat menyaksikan Presiden Direktur Kalla Group, Solihin Jusuf Kalla, yang tampil sebagai narasumber talkshow pada Jakarta Marketing Week 2022. Gelaran yang digagas MarkPlus.Inc tersebut merupakan event berkumpulnya para praktisi marketing diseluruh Indonesia untuk berbagi kisah dan pengalaman kepada masyarakat.
 
Saya memang sudah lama tidak bertemu Ihin – begitu dia akrab disapa. Memori saya pun terbawa pada pertemuan pertama kali dengannya beberapa tahun silam. Di Makassar, Sulawesi Selatan. Waktu itu menjelang pertemuan akbar para Saudagar Bugis Makassar. Kegiatan yang diinisasi ayahnya, Jusuf Kalla dkk digelar setiap tahun. 
Dan biasanya dilaksanakan seminggu setelah lebaran. 
 
Targetnya memanfaatkan momentum pulang kampung para saudagar dari perantauan.  “Permisi…permisi,” ucap Ihin menerobos kerumunan wartawan di ruang outdoor lantai dasar bangunan yang masih tahap finishing dan sekarang dikenal gedung Wisma Kalla. Letaknya di tengah kota Makassar. Persisnya, hanya selemparan batu dari eks rumah tokoh pahlawan nasional Dr.Gerungan Saul Samuel Jacob (GSSJ) Ratulangi yang juga Gubernur Sulawesi pertama.
 
Tak banyak yang mengenali Solihin saat itu. Makanya saat pembawa acara (MC) memintanya maju kedepan dan memperkenalkan, banyak yang terperangah, melongo, tak menyangka anak muda berkaos oblong yang baru saja ngeloyor menyelinap di antara mereka adalah putra pengusaha dan politisi nasional Muhammad Jusuf Kalla atau akrab disapa Daeng Ucu. 
 
Seingat saya waktu itu Ihin didaulat sebagai ketua panitia pelaksana pertemuan akbar diaspora saudagar Bugis Makassar yang datang dari seantero nusantara. Yang jadi topik menarik bukan kegiatannya. Tapi justru sosok dirinya yang digadang-gadang sebagai calon penerus kepemimpinan di perusahaan yang dirintis kakeknya, Hadji Kalla pada 1952 silam. 
 
Boleh dibilang, itulah momen pertama kalinya Ihin tampil ke publik. Selama ini dirinya yang dikenal pendiam jauh dari publikasi dan sorotan lampu. Dia sebenarnya tidak kemana-mana. “Tapi dia menjalani masa magangnya dulu,” bisik seorang kawan. 
 
Maksudnya?
 
Sampai sekarang, perusahaan yang bermula dari bisnis keluarga ini memiliki jenjang regenerasi di pucuk pimpinannya. Para anggota keluarga harus belajar magang di kantor sebelum menjadi pemimpin. Tujuannya agar bisa memahami pekerjaan dari pengalaman. Generasi pertama belum habis, generasi kedua harus belajar. 
 
Begitu seterusnya. Banyak yang bilang gemerlap panggung dunia kerap membuai seseorang. Uang, popularitas dan nama besar keluarga yang menempel, bahkan tak jarang mengubah perangai dan perilaku bak pesohor atau selebritas kagetan. 
 
Tapi itu tak berlaku bagi seorang Solihin.  
 
Buktinya setelah melewati puluhan tahun karir dan deretan penghargaan yang dia persembahkan untuk Kalla Group, Ihin tak banyak berubah. Bahkan saat dipucuk pimpinan sekalipun. Dia masih dengan  pembawaan yang sama. Dan masih suka pakai baju kaos. Hanya bedanya, sekarang kaosnya lebih stylish ala generasi milenial. 
 
Kembali ke cerita kaos Ihin yang sarat makna simbolik, saya jadi teringat penampilan bos Tesla dan CEO SpaceX sekaligus orang terkaya dunia, Elon Musk, saat bertemu Presiden Indonesia Joko Widodo, Sabtu (14/5/2022)  di pabrik produksi roket SpaceX,  Boca Chica, Amerika Serikat. Kaos oblong yang  dipakai Elon saat itu banyak mendapat sorotan para netizen. Komentarnya bermacam-macam. Kabarnya kaos tersebut  dibanderol dengan harga US$30 atau setara Rp 435 ribu (kurs Rp14.500).
 
Ternyata, tak hanya Elon yang memiliki hobi bergaya santai di berbagai acara. 
 
Beberapa deretan pebisnis teknologi kenamaan seperti Mark Zuckerberg hingga mendiang Steve Jobs terlihat  dengan gaya santai mereka dihadapan publik. Berstatus sebagai orang kaya dan bos besar di perusahaan ternama tak lantas mengubah penampilan orang-orang ini. Bahkan saat bertemu dengan pejabat pemerintah sekalipun.
 
***
Memasuki tahun 2022, persisnya 18 Oktober, genap sudah 70 tahun Kalla Group berkiprah memberikan kontribusinya mendorong pembangunan Indonesia. Sederet angka-angka kinerja, penyerapan tenaga kerja yang banyak dan pencapaian perusahaan lainnya sudah membuktikan komitmen perusahaan yang berkarya dari timur Indonesia ini tidak diragukan lagi.
  
Kendati demikian, kali ini bukan soal kinerja yang menjadi isu menggelitik. Sudah banyak dipublish dan diberitakan media. Melainkan bagaimana perusahaan ini melakukannya. Terutama menjaga nilai-nilai luhur dan kultur perusahaan. 
 
Tentang mengelola manusia Kalla sehingga bisa menggerakkan roda perusahaan ke arah kinerja yang moncer itu. Maka, lihatlah dari perspektif ini. Sudut pandang yang akan membawa pada jawaban pertanyaan: “Mengapa Kalla Group ada dan bisa bertahan hingga kini?”
 
Sederhana dan Adaptif
 
Saya memulainya dari pesan moral serpih jejak diatas tersebut. Apa itu? 
 
Kesederhanaan dan adaptif. Kedua nilai (value) ini menurut saya mewakili spektrum zaman yang berbeda namun tetap kontekstual. Dan punya andil mewarnai perjalanan Kalla Group dari masa ke masa, tumbuh dan berkembang, hingga bertahan sampai generasi keempat. 
 
Kesederhanaan tidak diajarkan. Namun ditunjukkan dalam bentuk keteladanan para pemimpinnya. Tidak ada aturan tertulis. Tapi jajaran direktur dan level manajer seperti sudah paham dan maklum dengan filosofi yang sudah berjalan turun temurun.  
 
Kabarnya, pernah ada karyawan baru. Masih muda. Setiap hari ke kantor mengendarai mobil mewah. Usut punya usut. Memang anak orang kaya, dari latarbelakang keluarga tergolong mampu. 
 
Salah? Melanggar? Secara aturan perusahaan:Tidak!
 
Lalu diam-diam sang manajer yang membawahi langsung memanggil karyawan yang bersangkutan. Bicara empat mata. Dari hati ke hati.  
 
“Dek…saran saya kalau ke kantor tidak usahlah  pakai mobil mewah. Cukup Avansa atau semacamnya yang sederhana saja. Bukan apa-apa, nanti ada kecemburuan dari sesama karyawan yang lain. Dan apalagi bos kita (Solihin JK,red) orangnya lebih  suka yang sederhana,” nasihatnya. 
 
Diceritakan, kemana-mana Ihin mengendarai mobil Toyota Kijang atau Alphard. Mengenai Toyota Kijang, mobil ini dipilih dengan alasan untuk menjalankan nasihat orang tuanya agar bergaya hidup sederhana. Apalagi, salah satu bisnis grup perusahaan sejak dulu menjadi agen penjualan mobil Toyota di Makassar dan wilayah Sulawesi lainnya. Sang karyawan mendengar dan bersedia menyesuaikan dengan kultur perusahaan tersebut.
 
Kesederhanaan yang diwariskan perusahaan ini rupanya tidak sebatas fisik dan perilaku. Tapi juga dalam berpikir yang sederhana dan tidak mempersulit. Lebih mengutamakan fungsi dibandingkan penampilan dan pencitraan. 
 
Berusaha untuk tidak berlebihan, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial yang kontra produktif. 
Dibalik kesederhanaan yang disimbolisasi lewat kaos Ihin, pada saat yang bersamaan menurut saya  sang pemimpin ingin mengirim sinyal kalau pihaknya tidak ketinggalan beradaptasi dengan perubahan. Itu ditunjukkan dengan transformasi teknologi digital yang terus bergulir dan merambah semua lini bisnis yang menjadi ekosistem Kalla Group.
  
Seperti misalnya inovasi yang mengakses produk dan layanan. Cukup mengunduh aplikasi “Kalla Friends” di Play Store dan App Store bisa mendapatkan berbagai benefit dari semua bisnis perusahaan. Fitur yang ditawarkan pun banyak. Ada product news and event, dealer and service redeem Kalla points, merchant dan lainnya. 
 
Tak cuma itu. Kalla termasuk perusahaan yang serius dalam merekrut, mengelola dan menjaga ketersediaan karyawan terbaik. Yang oleh kalangan ahli biasa disebut sebagai talent management. Maklum, di tengah persaingan bisnis yang ketat, bajak membajak karyawan kerap terjadi. 
 
Dan sumber daya karyawan yang tersebar di berbagai bidang usaha yang digeluti Kalla Group saat ini banyak dihuni talent muda yang berasal dari generasi milenial.  Salahsatu program unggulannya untuk mencetak talenta unggul adalah Kalla Future Leaders (KFL). 
 
Dikemas dalam bentuk kompetisi guna menjaring talent-talent terbaik dari seluruh Indonesia agar dapat bergabung dan mengenal sektor-sektor bisnis yang ada dalam ekosistem Kalla Group. Pesertanya mahasiswa tingkat akhir hingga fresh graduate.
 
Berkarya Untuk Negeri 
 
“Kami lahir tak sekadar hadir. Tapi bisa menciptakan  dan memanfaatkan peluang,” ujar Ihin penuh filosofi. Dia seakan menjawab keraguan orang yang membandingkan pemimpin terdahulu dengannya. Meski datang dari generasi belakangan, dia hanya ingin fokus bekerja, membuktikan dan menegaskan dirinya tetap merawat nilai-nilai dan kultur perusahaan ditengah kepungan derasnya arus perubahan.             
 
Jebolan jurusan Bisnis Internasional Universitas Duke, Amerika Serikat ini menceritakan, sejak awal Kalla  berdiri, spiritnya adalah maju bersama masyarakat. 
 
Jusuf Kalla pada satu kesempatan untuk memperkat naluri personal
 
Memiliki banyak unit bisnis, tetapi semuanya bermula dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah ditengah masyarakat. Tak kalah ketinggalan, perusahaan juga menyerap puluhan ribu karyawan yang merupakan anak bangsa Indonesia.      
 
Sebagai contoh, dulu transportasi darat yang menghubungkan antar kota dan daerah kabupaten masih sangat sulit ditemukan. Maka Kalla mencari kemudahan untuk transportasi dengan mendirikan NV Hadji Kalla (kemudian menjadi PT Hadji Kalla) yang menjual mobil Toyota. Setelah itu, untuk kenyamanan bertransportasi, Kalla kembali membantu dengan menghadirkan perusahaan yang bisa membangun jalan beraspal hotmix melalui PT Bumi Karsa.
 
Perusahaan ini pun terus tumbuh berkembang dan berkontribusi untuk masyarakat. Membangun sekolah dari jenjang TK sampai perguruan tinggi karena mereka percaya bahwa pendidikan salah satu motor utama masyarakat untuk bisa maju. 
 
Kemudian, ada properti, infrastruktur, logistik dan lainnya. Kalla juga menjawab kebutuhan masyarakat yang ketika itu Makassar sebagai barometer pembangunan Indonesia Timur sudah menjadi kota maju. Tapi sayangnya belum memiliki pusat perbelanjaan yang repsentatif dan modern.  
 
Lalu mereka bikin mal pertama di Indonesia Timur, yaitu Mal Ratu Indah (Mari). Kemudian menyusul Mal Nipah yang desainnya diarsiteki Ridwan Kamil dengan konsep green building. Dalam beberapa tahun terakhir, persero melakukan ekspansi disektor energi baru terbarukan (EBT). 
 
Menggarap setidaknya empat pembangkit listrik tenaga air. Tiga di Pulau Sulawesi, yakni Poso (655 MW), Tana Toraja (180 MW) dan Mamuju (450 MW). Sisanya di Sumatera, persisnya di Kerinci Jambi (250 MW). 
 
Yang anyar, Kalla membangun industri pengolahan mineral (smelter) melalui anak perusahaannya, PT Bumi Mineral Sulawesi. Lokasinya di kecamatan Bua, kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Produk akhirnya ferronickel berkapasitas 33.000 ton/tahun dan stainless steel. Smelter yang dibangun menggunakan tenaga air ini direncanakan beroperasi tahun depan, 2023. 
 
Kalla tentu sudah hitung dan kalkulasi. Meski sifat investasinya jangka panjang, toh berani menggarapnya karena menilai potensi nikel paling besar berada di Sulawesi dan Halmahera. “Indonesia ini sangat kaya sumber daya mineral dan energi. Namun sayangnya selama ini kita kebanyakan hanya mengekspor material yang mentah. Added value-nya ada di luar negeri. Karena itu kami ingin berkontribusi di situ, supaya menambah value added yang lebih besar bagi negeri kita,”  kata pria yang namanya konon terinspirasi dari nama eks Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Brigjen TNI Solihin GP.
 
Menggergaji Gelombang
 
Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai hidup dan bisnis yang diwariskan orang tuanya, Ihin berharap Kalla Group kelak lebih maju lagi dan menjadi perusahaan terkemuka yang berdaya saing global.     
Lantas, apa langkah awal yang dilakukan? 
 
Mengubah kebiasaan dan budaya perusahaan yang usang tertelan zaman. Diakui Ihin, hal tersebut awalnya agak susah. Sebab stigma dan karakter perusahaan keluarga (family company) masih menempel kuat. Di mana menempatkan keputusan bisnis tertinggi berada di tangan keluarga. 
 
Namun secara bertahap dan terukur manajemen mengurangi peran anggota keluarga. Yang penting sebelumnya anggota keluarga sudah diberi pemahaman dan keyakinan, bahwa setiap transisi bisa membawa perusahaan mereka mengalami lonjakan ke arah pertumbuhan positif. Dengan syarat, mesti diprofesionalisasi dengan baik.
Alhasil, jumlah manajemen dan karyawan dari kalangan keluarga yang sebelumnya 90%, sekarang sudah berkurang. Sisa sekitar 30% saja. 
 
Porsi profesional dan karyawan nonkeluarga kini lebih 60% dari total kurang lebih 2.000-an karyawan. Setelah konsolidasi internal kelar, wajah perusahaan ikut dipoles. Ihin mengganti logo perusahaan yang sebelumnya dianggap tabu dan sakral diutak-atik. 
 
Dia melakukan re-branding. Dengan desain dan tampilan baru yang lebih segar, modern dan kekinian. 
Tidak lagi pakai ikon, cukup huruf dengan tulisan huruf kapital: KALLA. Kombinasi warnanya pun simpel. Tetap mempertahankan warna hijau. Hanya menambahkan warna percikan emas yang melambangkan semangat dan prosperity. 
 
Alasannya sederhana. Saat ini corporate identity harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan zaman. 
 
***
Membangun kultur perusahaan bukanlah perkara mudah. Merawatnya secara konsisten apalagi, jauh lebih sulit. Kultur perusahaan yang kuat tidak hanya satu arah berasal dari level manajerial. Tapi dimulai juga dari karyawan di dalam organisasi. 
 
Kalla  menyadari hal tersebut. Misalnya, ketika perusahaan yang dibangun 18 Oktober 1952 ini sedang mencari karyawan, sedapat mungkin memilih yang punya karakter dan sikapnya baik. 
 
Ukurannya paling tidak sesuai dengan kultur perusahaan yang pondasinya sudah diletakkan foundernya. 
Kalla beranggapan, kemampuan bisa dipelajari dan dikembangkan. Tapi karakter yang buruk akan sulit untuk diubah. Dengan karakter baik dan perlakuan yang baik, karyawan tentunya bisa mengeluarkan semua potensi mereka dengan bekerja lebih baik dan maksimal.
 
Jika mau diibaratkan dengan tim sepakbola, rasanya tidak berlebihan yang dikatakan Shin Tae Yong (STY), pelatih timnas Indonesia. “Kesuksesan satu tim sepakbola, hanya 30% skill pemain,  selebihnya ditentukan oleh mental dan karakternya,” ujar pria asal Korea Selatan yang ketika sebagai pemain sukses membawa negaranya hingga semifinal Piala Dunia 2002.
 
Perkembangan demikian dimungkinkan. Di samping karena keahlian para pemimpin dan manajemen mengendalikan perusahaan, juga watak dan karakter pemimpinnya yang dikanalisasi menjadi kultur atau core values yang kuat. Bentuknya bisa bermacam-macam. Selain sederhana dan adaptif, juga inovatif, kompetensi, jujur, punya operational excellence dan kolaboratif.
 
Dalam implementasi sehari-hari, para karyawan Kalla berproses dengan berpegang teguh pada pilar utama perusahaan yang dikenal sebagai “Jalan Kalla” atau “Kalla Way”. Yakni: Kerja Ibadah, Apresiasi Pelanggan, Lebih Cepat Lebih Baik, Aktif Bersama dan Maju Bersama.  
 
Nilai-nilai bisnis Kalla itu terpateri sebagai cikal bakal bagaimana para karyawan sejak awal bekerja. Dimulai dengan kesederhanaan dan bekerja keras. Yang menjadi pondasi spirit kerja bersama untuk kemajuan perusahaan.  
 
Kemudian, pertanyaannya masih relevankah kultur perusahaan saat ini?
 
Jawabannya bisa beragam dengan tafsir masing–masing. Bisa panjang debat dan pembahasannya. Tapi yang ingin saya katakan, jangan sekali-kali meremehkan kekuatan dari kultur perusahaan. Dan jangan juga kuatir kalau misalnya anda merasa kultur perusahaan anda belum kuat. 
 
Karena perusahaan sekelas Kalla Group yang usianya lebih setengah abad, masih tetap butuh proses trial and error. Setiap proses ditempuh sampai menemukan “ramuan” yang pas sesuai dengan konteks zaman yang menyertainya. 
 
***
Bagi kalangan korporasi di tanah air, keberadaan satu entitas atau kelompok usaha dengan usia 70 tahun merupakan hal yang langka. Dan di tahun 2022, kelompok Kalla dapat mencapai milistone ini. 
 
Agaknya, tak berlebihan jika disebut legendaris. 
 
Di Indonesia memang belum ada indikator rata-rata umur perusahaan yang masuk kategori living legend. Tapi bila merujuk hasil riset tim penulis buku “The Living Company” (1997) menemukan fakta  bahwa perusahaan yang menembus usia 50 tahun, bahkan 100-200 tahun, maka kehebatan, kematangan dan ketangguhannya tidak diragukan lagi.
 
Kalau ketangguhan saya kira ada benarnya. Terbukti, setiap generasi mampu melewati ujian krisis. Mulai dari era Hadji Kalla (1952-1968) dan generasi Jusuf Kalla (1968-1998) yang diterpa gejolak politik,keamanan dan krisis ekonomi. Era Fatimah Kalla (1998-2017) dengan krisis moneter dan generasi keempat Solihin JK (2018-sekarang) dengan krisis kesehatan pandemi Covid-19 yang mengubah lanskap bisnis global.      
 
Bicara ketangguhan, saya jadi teringat perahu tradisional Bugis Makassar Phinisi yang juga legendaris. Punya layar tujuh, bertiang dua dan mampu “menggergaji” gelombang. 
 
Disebut begitu, karena ketika gelombang datang, olah kemudi diarahkan seolah Phinisi mengiris serong gerakan raksasa itu. Tidak menghadapinya langsung dengan memotongnya. Ketangguhan ala Phinisi menurut saya memberi inspirasi dan  motivasi Kalla Group percaya diri menjelajahi dan mengarungi samudera. Bisa melewati ombak.
 
Melanjutkan transformasi  hingga mewujudkan asa masuk jajaran 1.000 Fortune Asia Pacific Company pada 2052 yang bertepatan usia 100 tahun.
 
Penulis adalah freelance writer, mahasiswa pascasarjana STIE Mulia Pratama dan mantan jurnalis Harian “Bisnis Indonesia” Jakarta.
 
Solihin Jusuf Kalla yang selalu mencerminkan kesederhanaan. Foto: RM

RELATED POSTS